Selasa, 07 April 2015

(Makalah) Ajaran Hindu Dharma Tentang Ketuhanan


BAB 1
A.     Pendahuluan
Agama Hindu adalah salah satu agama yang berasal dari India yang mana agama tersebut bermula dari pertemuan antara suku Arya dan suku Dravida. Suku Arya adalah suku/kelompok manusia yang hidupnya selalu berpindah-pindah (Nomaden), sedangkan suku Dravida adalah suku asli di India, kedua suku tersebut bertemu disuatu lembah/sungai yang dinamai sungai Shindu.
 Pertemuan kedua suku tersebut mengakibatkan sebuah konflik peperangan antara kedua suku tersebut, karena suku Arya adalah suku yang Nomaden maka suku Dravida dikalahkannya yang akhirnya menimbulkan akulturasi. Dari akulturasi tersebut menghasilkan sebuah kepercayaan yang disebut dengan Hindu, kata Hindu sendiri di ambil dari sebuah sungai di India yaitu sungai Shindu.
Di dalam sejarah Agama Hindu terbegi menjadi tiga priode, yaitu: pada masa Weda, masa Brahmana, dan masa Upanisad. [1]Dalam tiga priode tersebut mereka mempunyai konsep ketuhanan yang berda-beda.
Agama Hindu memiiki konsep ketuhanan yang disebut dengan “Trimurti”, Pada awalnya agama ini belum memiliki konsep ketuhanan tersebut, karena awal agama ini mereka masih menganut sistem kepercayaan “animism” dan “dinamisme”.
Sama halnya dengan agama lain, agama Hindu pun mereka mempunyai ritual-ritual sembahyang yang mereka lakukan di dalam kehidupan mereka sebagai umat Hindu, mereka menganggap sembahyang mereka tersebut adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang maha Esa (Brahman).
Praktek ritus yang dilakukan umat Hindu seperti sembahyang adalah suatu persembahan mereka/penghormatan mereka kepada zat yang maha besar yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.


BAB 2
B.      PENJELASAN
a.      AJARAN HINDU DHARMA TENTANG KETUHANAN
Para sejarawan membagi sejarah Hindu menjadi tiga zaman yaitu:
1.      Zaman Weda
2.      Zaman Brahmana
3.      Zaman Upanisad
Dalam tiap-tiap priode ini memiliki konsep-konsep keberagamaan yang berbeda seperti konsep ketuhanan, ritual-ritual, dan juga pemikiran-pemikiran mereka yang semakin lama semakin berkembang.
Zaman ini dinamakan weda karena kitab suci mereka adalah kitab Weda yang disampaikan Tuhan kepada para Rsi. Pada waktu ini kitab Weda yang menjadi pegangan umat Hindu yang mendominasi bagi kehidupan mereka, maka pada zaman ini disebut dengan Zaman Weda.
Di zaman Weda ini umat Hindu masih memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme yang mereka konsepkan sebagai Dewa, karena hal ini adalah awal dari agama Hindu yang masih terkontaminasi dengan kepercayaan-kepercayaan terdahulu mereka.[2]
Umat Hindu di zaman ini mereka memiliki banyak Dewa, akan tetapi mereka tidak menyembah kepada semua Dewa melainkan kepada dewa yang mereka butuhkan saja. [3]Contoh : seorang petani, maka ia akan menyembah Dewa hujan agar tanamannya tidak kekeringan, dan juga ia menyembah Dewa matahari, badai, karena agar tanaman-tanamannya tidak dirusak.
Keunikan pada zaman ini adalah mereka juga menyembah kepada roh jahat dengan maksud agar mereka agar tidak marah dan merusak.
Pada zaman yang kedua yaitu zaman Brahmana, kata Brahmana ini adalah kasta tertinggi yang ada di agama Hindu yaitu kaum pendeta, hanya merekalah yang diperkenankan mempelajari kitab Weda sedangakan kasta-kasta lain tidak boleh. Di zaman ini kaum Brahmana sangat berperan penting dalam acara ritual keagamaan seperti ritual korban, pada ritual tersebut seseorang yang ingin berkorban haruslah dengan kaum Brahmana, karena ia adalah sebagai jembatan antara manusia dengan Tuhan.
Di zaman ini baru muncul konsep “Trimurti”. Yang mana trimurti tersebut menjelaskan tentang peran-peran Tuhan yang maha kuasa. Pada konsep tersebut Tuhan terbagi menjadi tiga yaitu:
1.      Dewa Brahman adalah memiliki peran sebagai pencipta, segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak lain dari ciptaan Dewa Brahman.
2.      Dewa Wisnu adalah Dewa yang berperan sebagai pemelihara/pelindung alam.
3.      Dewa Siwa adalah Dewa yang berperan sebagai pelebur alam.
Ketiga peran tersebut yang dinamai “Trimurti”. Pada masa ini Tuhan tidak lagi berperan sebagai yang maha kuasa, karena di masa ini Tuhan dipaksa untuk mengabulkan permohonan-permohonan hambanya, dengan cara korban. Semakin besar korban yang diberikan maka semakain tidak berdayanya Tuhan.[4]
Pada zaman Brahmana tersebut terjadilah konflik atas ketidak setujuan adanya sistem kasta, yang mana hanya kaum Brahmana saja yang dapat mempelajari kitab suci Weda, dan konflik tersebut di dasari pula dengan ketidak setujuan kepada kaum Brahmana yang merauk keuntungan setiap kali diadakannya ritual korban, karena yang ingin melaksanakan korban harus membayar uang kepada kaum Brahmana. Dari situlah muncul konflik yang kemudian beralih ke zaman Upanisad.
Pada zaman Upanisad ini sudah banyak sekali perbedaan-perbedaan yang menonjol,  seperti semua umat Hindu sudah dapat mempelajari kitab Weda tanpa harus berkasta Brahmana, ritual-ritual korban, dan juga pada zaman ini umat Hindu telah memiliki perkembangan terutama dari pemikiran mereka yang semakin berkembang.
Perkembangan Filsafat Hindu yang memunculkan pada era ini yang menimbulkan banyak sekali perubahan pada umat Hindu.[5]
Sad Darsana adalah Filsafat Hindu yang terdiri dari enam dasar tentang kebenaran yaitu:
1.      Filsafat Samkhya
2.      Filsafat Yoga
3.      Filsafat Mimamsa
4.      Filsafat Nyaya
5.      Filsafat Vaisiseka
6.      Filsafat Vedanta
Tuhan umat Hindu di Indonesia sering kali disebut dengan “Sang Hyang Widhi Wasa” yang berarti “yang maha kuasa” yang telah menciptakan alam dan seisinya.
Hindu di Indonesia mempertahankan prinsip-prinsip Hinduisme dan Buddhaisme, sehingga dewa-dewa yang mereka sembah tidak lain hanya berpusat pada Trimurti/ di Indonesia disebut dengan Trisakti yang mencakup Dewa Brahman, Wisnu, dan Siwa.
Umat Hindu mereka sering kali disebut sebagai politeisme, karena menyembah banyak dewa, akan tetapi sesungguhnya mereka bukanlah politeisme lebih tepatnya panteisme yaitu menyembah banyak dewa tetapi ada salah satu yang dibesarkan.
Definisi tuhan dan dewa menurut umat Hindu itu berbeda Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa adalah Tuhan yang maha esa, Tuhan sang pencipta, dan Tuhan yang tiada bandingnya, sedangkan dewa yang dimaksud umat Hindu itu adalah bagian-bagian dari Tuhan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, maka dari itu mereka pun menyembahnya karena dewa-dewa tersebut adalah jelmaan dari Tuhan yang maha esa.

b.        TRIMURTI
Konsep Trimurti ini baru muncul setelah umat Hindu memiliki perkembangan pemikiran yang disebutkan oleh sejarawan pada zaman Brahmana, Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman yang terdiri dari :
1.      Brahman, adalah Tuhan yang berfungsi sebagai pencipta alam, yang disebut dalam Bahasa sansekerta “Utpatti”
2.      Wisnu, adalah Tuhan yang berfungsi sebagi pemelihara, yang disebut dalam Bahasa sansekerta “Sthiti”
3.      Siwa, adalah Tuhan yang berfungsi sebagai pelebur/penghancur.
Umat Hindu mempercayai Tuhan yang maha esa dengan ajaran mereka tentang “Tripramana” yang terdiri dari tiga bagian yaitu:[6]
1)      Pratyaksa pramana ialah cara untuk melihat Tuhan dengan langsung, cara ini hanyalah dapat digunakan oleh orang-orang suci saja, karena mustahil jika orang awam dapat melihat Tuhan/Sang Hyang Widhi Wasa secara langsung.

2)      Anumana pramana ialah melihat Tuhan dengan cara menganalisa saja, walaupun Tuhan yang dibayangkan bukanlah Tuhan yang sesungguhnya, tetapi dengan melihat alam semesta ini pastinya mereka beranggapan bahwasanya Tuhan itu maha kuasa.

3)      Agama pramana ialah dengan cara mempercayai isi pustaka suci Agama Hindu. Umpamanya kitab suci Upanisad menyatakan bahwa Sang Hyang Widhi adalah “telinga dari semua telinga; pikiran dari semua pikiran; ucapan dari segala ucapan; nafas dari segala nafas; mata dari segala mata”.



c.    SEMBAHYANG
Kata “sembahyang” berasal dri bahasa Jawa Kuno. Sembah di sini berarti menyayangi, menghormati, memohon, menyerahkan diri dan menyatukan diri. Sedangkan kata Hyang artinya “suci”. Jadi kata seembahyang berarti menyembah yang suci untuk mnyerahkan diri pada yang hakekatnya lebih tinggi yaitu Tuhan.
Salah satu dari ritual ini yaitu upacara piodalan. Upacara ini dilakukan dengan cara membagikan air suci atau thirta yang diawali dengan memercikan pada bagian kepala sebanyak tiga kali , air suci ddi minum tiga kali, serta air suci digunakan untuk membersihkan muka sebagai kesucian dan anugrah Ida sang Hyang Widhi Wasa juga dibasuhkn tiga kali padda bagian muka. Terakhir adalah nunas sekar disertai ucapan ‘Ong Kasumaduhadi jaya nama swaha’ yang maknanya anugrah dari sang Hyang widhi wasa.
Kata sembahyang dalam agama hindu yaitu sebuah sebutan konsep ritual penyembahaan kepada tuhannya .
Urutan sembahyang :
      Sembah puyung (sembah tangan kosong)
     Menyembah sanghyang widhi sebagai sang hyang Aditya
Sarana : bunga
     Menyembah tuhan sebagai ista Dewata pada hari dan tempat persembahyangan.
Sarana : kawangen
     Menyembah tuhan sebagai pemberi anugrah.
Sarana : bunga
Melakukan perseembahyangan umumnya umat Hindu Bali menggunakan berbagai sarana untuk memantapkan hatinya dalam melakukan perseembahyangan. Sarana itu ada berupa bunga, buah, daun, api, dan juga thirta.


Dan makna dari sarana tersebut adalah:
1.      Bungan, melambangkan ketulusan dan keikhlasan yang suci dalam pikiran. Dan biasanya disimbolkan dengan dewa Siwa sebagai sarana persembahyangannya.
2.      Canang, melambangkan penghormatan, karena benda yang bernilai tinggi.
3.      Kawagen, yaitu harum-haruman yang menyimbolkan untuk mengharumkan nama Tuhan.
4.      Api, Melambangkan sumber kehidupan dewa Brahma yang menerangi dan dharma-dharmanya membaka.
5.      Tirta, yaitu sebagai air suci, yang menyimbolkan membersihkan diri dari kekotoran pikiran.
6.      Bija, yaitu berupa beras, abu suci, yang melambangkan sebagai benih kehidupan yang suci.
7.      Mantra, yaitu syair-syair yang terdapat di dalam Weda Sruti yang di yakini sebagai perkataan Tuhan. Mantra ini bertujuan agar melindungi pikiran dari hal-hal yang buruk.
Tujuan dari sembahyang yaitu sebagai pendidikan kita untuk memiliki sifat ihklas. Ihklas pada akikat nya merupakan kebutuhan jiwa manusia. Karena apapun yang ada pada diri kita tidak ada yang kekal, semua satu persatu atau bersama-sama akan pergi terpisah dengan diri kita.
Karena pada hakikatnya semua manusia akan mati dan semua yang kita cintai : istri, anak-anak, ayah, ibu, saudara, sahabat, pimpinan yang baik, orang-orang yanh kita kagumi seperti guru, pendeta yang suci, cepat atau lambat juga akan berpisah dengan kita dan meninggalkan kita, maka dari itu kita di ajarkan untuk bernuat ikhlas di dalam sembahyang ini.

Sembahyang pun berfungsi sebagai penentraman jiwa. Jiwa yang tentram adalah jiwa  yang terlepas dari cemas, gelisah, bingung, ragu-ragu dan kecewa. Nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai material hanya akan dapat dirumbuhkan oleh manusia yang berjiwa tentram.
Persembahyangan dilakukan dengan beberapa sikap yang dalam agama Hindu disebut Asana, ada beberapa bentuk asana yang dipergunakan untuk melakukan desembahyang. Ada seembahyang yang dilakukan dengan duduk, ada dengan berdiri seperti didalam kelas bagi siswa dalam melakukan Tri sandhaya.
Sikap duduk ada beberapa bentuk seperti padmasana. Yaitu sikap seembahyang  yang duduk seperti teratai. Asana ini dilakukan dengan menempatkan kaki kanan diatas paha kiri dan kaki kiri di atas paha kanan, tulang punggung sampai kepala menjadi satu garis tegak, sekujur tubuh dilemaskan.
Sembahyang pun sebagai suatu cara untuk mengatasi perbudakan materi, karena di dalam sembahyang kita diajarkan untuk ihklas, dermawan, dan juga untuk saling berbagi dari sebagian harta yang kita punya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Sembahyang dapat menumbuhkan cinta kita kepada Tuhan, karena pada hakikatnya jiwa kita ini adalah milik Tuhan dan kita pun adalah sebagian dari Tuhan yang pada akhirnya kita akan kembali kepada Tuhan.



BAB 3
C.  PENUTUP

KESIMPULAN

            Tuhan dalam agama Hindu itu esa, ia adalah Sang Hyang Widhi Wasa yang maha kuasa dan maha segalanya, sedangkan Dewa dalam Hindu pun diyakini sebagai penjelmaan dari Tuhan Sang Hyang Widhi Wasa/Brahma.
            Walaupun pada setiap zaman berbeda tetapi intinya umat Hindu itu mempercayai bahwasanya ada zat yang maha besar yang mereka sebut dengan Brahma/Sanghyang Widhi Wasa.
            Sedangkan konsep peran Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur yang disebut dengan Trimurti/Trisakti, menurut sejarawan baru muncul pada zaman Brahmana karena pada saat itu Hindu telah memiliki perkembangan di dalam pemikirannya, yang menimbulkan adanya tiga peran Tuhan.
            Sembahyang adalah ritual atau upacara keagamaan, yang bertujuan untuk menyembah atau tunduk kepada zat yang maha besar, sebagai penghormatan kita kepada Tuhan.
            Sembahyang pun memiliki banyak fungsi seperti melatih kita agar ikhlas, saling membantu dan memberi, menumbuhkan rasa cinta kepada Tuhan, dan agar lebih dekat dan pasrah diri kepada Tuhan.
           




DAFTAR PUSTAKA
Arifin, HM.  Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar. Jakarta: PT Golden Trayon Press. 2004
C. Zaehner, R. Hinduism . Inggris: Oxford University Press. 1966
M Hopfe, Lewis. Religions of the World. America: Macmillan Publishing Company. 1991
Smith, Huston. Agama-agama Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 1985
Swarbodhi Harsa. Upamana-praman Buddha Dharma. Medan: Yayasan Perguruan budaya.1980



[1] . Huston Smith, Agama-agama Manusia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985), hal. 17
[2] . Lewis M Hopfe, Religions of the World (America: Macmillan Publishing Company, 1991) cet. 5, hal. 92
[3] . HM. Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar (Jakarta: PT Golden Trayon Press, 2004) hal. 59
[4] . Ibid, hal. 63
[5] . R.C. Zaehner, Hinduism (Inggris: Oxford University Press, 1966), hal. 51
[6] .  Harsa Swarbodhi. Upamana-praman Buddha Dharma & Hindu Dharma Analogi falsafat-Etika-Puja Buddha Dharma dan Hindu Dhrma (Medan:Yayasan Perguruan budaya, 1980) hal. 53-54

Tidak ada komentar:

Posting Komentar